BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Panca indra adalah organ-organ akhir yang dikhususkan untuk menerima jenis rangsangan tertentu. Serabut saraf yang menanganinya merupakan alat perantara yang membawa kesan rasa dari organ indra menuju ke otak tempat perasaan ini ditafsirkan. Beberapa kesan timbul dari luar seperti sentuhan, pengecapan, penglihatan, penciuman dan suara.

Mata adalah organ penglihatan. Suatu struktur yang sangat kompleks, menerima dan mengirimkan data ke korteks serebral. Seluruh lobus otak, lobus oksipital, ditujukan khusus untuk menterjemahkan citra visual. Selain itu, ada tujuh saraf kranial yang memilki hubungan dengan mata dan hubungan batang otak memungkinkan koordinasi gerakan mata.

Salah satu penyakit yang dapat menyerang indra penglihatan yaitu konjungtivitis. Sebelumnya, pengertian dari konjungtiva itu sendiri adalah membrana mukosa yang melapisi bagian dalam kelopak mata (palpebra) dan berlanjut ke batas korneosklera permukaan anterior bola mata. Sedangkan pengertian konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva yang ditandai dengan pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivitis mata nampak merah, sehingga sering disebut mata merah.

Menurut sumber lainnya, Konjungtivitis atau mata memerah adalah salah satu penyakit mata yang bisa mengganggu penderitanya sekaligus membuat orang lain merasa tidak nyaman ketika berkomunikasi dengan si penderita. Semua orang dapat tertular konjungtivis, bahkan bayi yang baru lahir sekalipun. Yang bisa ditularkan adalah konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Penularan terjadi ketika seorang yang sehat bersentuhan dengan seorang penderita atau dengan benda yang baru disentuh oleh penderita tersebut. Oleh karena itu, maka kita harus memahami tentang penyakit konjungtivitis agar dapat memutus mata rantai dari penularannya.

B.     Tujuan Penulisan

1.    Tujuan Umum

Adapun tujuan penulisan dari penyusunan makalah ini secara umum yaitu untuk mengetahui tentang Konsep Dasar Medis dan Konsep Dasar Keperawatan tentang Konjungtivitis.

2.    Tujuan Khusus

Adapun tujuan penulisan dari penyusunan makalah ini secara khusus adalah sebagai berikut:

a.    Untuk mengetahui tentang definisi Konjungtivitis.

b.   Untuk mengetahui tentang klasifikasi dan etiologi Konjungtivitis.

c.    Untuk mengetahui tentang patofisiologi Konjungtivitis.

d.   Untuk mengetahui tentang manifestasi klinis Konjungtivitis.

e.    Untuk mengetahui tentang pemeriksaan diagnostik Konjungtivitis.

f.    Untuk mengetahui tentang penatalaksanaan Konjungtivitis.

g.   Untuk mengetahui tentang pencegahan Konjungtivitis.

h.   Untuk mengetahui tentang prognosis Konjungtivitis.

i.     Untuk mengetahui tentang pengkajian pada pasien Konjungtivitis.

j.   Untuk mengetahui tentang diagnosa keperawatan Konjungtivitis.

k.    Untuk mengetahui tentang intervensi dan rasional asuhan keperawatan Konjungtivitis.

BAB II

ISI

1.      KONSEP DASAR

  1. Anatomi fisiologi

Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva ini. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.14 Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :

- Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus.

- Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sclera di bawahnya.

- Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.

Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan sangat longgar dengan jaringan dibawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.

Konjungtiva bulbi superior paling sering mengalami infeksi dan menyebar kebawahnya.

Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat, superficial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa.

Sel-sel epitel superficial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara merata diseluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel superficial dan di dekat linbus dapat mengandung pigmen.

Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superficial) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.13

Kelenjar air mata asesori (kelenjar Krause dan wolfring), yang struktur dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar krause berada di forniks atas, dan sedikit ada diforniks bawah. Kelenjar wolfring terletak ditepi atas tarsus atas. (Gambar )

A.  Definisi

          Conjunctivitis (konjungtivitis, pink eye) merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia.

          Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa jenis konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tetapi ada juga yang memerlukan pengobatan. (Effendi, 2008).

          Konjungtivitis biasanya tidak ganas dan bisa sembuh  sendiri. Dapat juga menjadi kronik dan hal ini mengindikasikan perubahan degeneratif atau kerusakan akibat serangan akut yang berulang. Klien sering datang dengan keluhan mata merah. Pada konjungtivitis didapatkan hiperemia dan injeksi konjungtiva, sedangkan pada iritasi konjungtiva hanya injeksi konjungtiva dan biasanya terjadi karena mata lelah, kurang tidur,asap, debu dan lain-lain.

B.  Klasifikasi dan Etiologi

1)  Konjungtivitis  Bakteri

Terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Konjungtivitis bakteri sangat menular, menyebar melalui kontak langsung dengan pasien dan sekresinya atau dengan objek yang terkontaminasi.

2)    Konjungtivitis  Bakteri Hiperakut

Neisseria gonnorrhoeae dapat menyebabkan konjungtivitis bakteri hiperakut yang berat dan mengancam penglihatan, perlu rujukan ke oftalmologis segera.

3)    Konjungtivitis Viral

Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus ( yang paling sering adalah keratokonjungtivitis epidermika ) atau dari penyakit virus sistemik seperti mumps dan mononukleosis. Biasanya disertai dengan pembentukan folikel sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata yang lain biasanya tertular dalam 24-48 jam.

4)    Konjungtivitis Alergi

Infeksi ini bersifat musiman dan berhubungan dengan sensitivitas terhadap serbuk, protein hewani, bulu, makanan atau zat-zat tertentu, gigitan serangga dan/atau obat ( atropin dan antibiotik golongan Mycin). Infeksi ini terjadi setelah terpapar zat kimia seperti hair spray, tata rias, asap rokok. Asma, demam kering dan ekzema juga berhubungan dengan konjungtivitis alergi. Disebabkan oleh alergen yang terdapat di udara, yang menyebabkan degranulasi sel mast dan pelepasan histamin.. Pasien dengan konjungtivitis alergi sering memiliki riwayat atopi, alergi musiman, atau alergi spesifik (misal terhadap kucing).

5)   Konjungtivitis blenore, konjungtivitis purulen ( bernanah pada bayi dan konjungtivitis gonore ).

Blenore neonatorum merupakan konjungtivitis yang terdapat pada bayi yang baru lahir. Penyebab oftalmia neonatorum adalah

a. Gonococ

b. Chlamydia ( inklusion blenore )

c. Staphylococus

Masa inkubasi bervariasi antara 3 – 6 hari

Gonore                    : 1 – 3 hari

Chlamydia             : 5 – 12 hari

C.  Patofisiologi

Konjungtiva karena lokasinya terpapar pada banyak mikroorganisme dan faktor lingkungan lain yang menganggu. Beberapa mekanisme melindungi permukaan mata dari substansi luar. Pada film air mata, unsur berairnya mengencerkan materi infeksi, mukus menangkap debris dan kerja memompa dari palpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air mata mengandung substansi antimikroba termasuk lisozim. Adanya agens perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma. Mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva ( kemosis ) dan hipertrofi lapis limfoid stroma ( pembentukan folikel ). Sel –sel radang bermigrasi dari stroma konjungtiva melalui epitel ke permukaan. Sel – sel ini kemudian bergabung dengan fibrin dan mukus dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur.

Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh – pembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hiperemi yang tampak paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus. Pada hiperemia konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papila yang sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensasi ini merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh darah yang hiperemia dan menambah jumlah air mata. Jika klien mengeluh sakit pada iris atau badan silier berarti kornea  terkena.

 D.    Manifestasi klinis

   1).  Konjungtivitis Bakteri

 Gejalanya, dilatasi pembuluh darah, edema konjungtiva ringan, epifora dan rabas pada awalnya encer akibat epifora tetapi secara bertahap menjadi lebih tebal atau mukus dan berkembang menjadi purulen yang menyebabkan kelopak mata menyatu dalam posisi tertutup terutama saat bangun tidur pagi hari. Eksudasi lebih berlimpah pada konjungtivitis jenis ini. Dapat ditemukan kerusakan kecil pada epitel kornea.

2).   Konjungtivitis Bakteri Hiperakut

Sering disertai urethritis. Infeksi mata menunjukkan sekret purulen yang masif. Gejala lain meliputi mata merah, iritasi, dan nyeri palpasi. Biasanya terdapat kemosis, kelopak mata bengkak, dan adenopati preaurikuler yang nyeri. Diplokokus gram negatif dapat diidentifikasi dengan pewarnaan Gram pada sekret. Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk terapi topikal dan sistemik.

3).   Konjungtivitis Alergi

a. Mata gatal

b. Panas

c. Mata berair

d. Mata merah

e. Kelopak mata bengkak.

f. Pada anak biasanya disertai riwayat atopi lainnya seperti rhinitis alergi, eksema, atau asma.

g. Pada pemeriksaan laboratorium  ditemukan sel eosinofil, sel plasma, limfosit dan basofil.

4).   Konjungtivitis Viral

Gejalanya : Pembesaran kelenjar limfe preaurikular, fotofobia dan sensasi adanya benda asing pada mata. Epifora merupakan gejala terbanyak. Konjungtiva dapat menjadi kemerahan dan bisa terjadi nyeri periorbital. Konjungtivitis dapat disertai adenopati, demam, faringitis, dan infeksi saluran napas atas.

5).  Konjungtivitis blenore

Tanda – tanda blenore adalah sebagai berikut:

a.       Ditularkan dari ibu yang menderita penyakit GO.

b.      Merupakan penyebab utama oftalmia neonatorum.

c.       Memberikan sekret purulen padat sekret yang kental.

d.      Terlihat setelah lahir atau masa inkubasi antara 12 jam hingga 5 hari.

e.       Perdarahan subkonjungtiva dan kemotik.

E.  Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil. Pada pemeriksaan klinik didapat adanya hiperemia konjungtiva, sekret atau getah mata dan edema konjungtiva.

F.   Penatalaksanaan

1)   Konjungtivitis Bakteri

Sebelum terdapat hasil pemeriksaan mikrobiologi, dapat diberikan antibiotik tunggal, seperti gentamisin, kloramfenikol, folimiksin, dll. selama 3-5 hari. Kemudian bila tidak memberikan hasil yang baik, dihentikan dan menunggu hasil pemeriksaan.
Bila tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung, diberikan tetes mata disertai  antibiotik spektrum obat salep luas tiap jam mata untuk tidur atau salep mata 4–5 kali sehari.

2)   Konjungtivitis Bakteri Hiperakut

Penatalaksanaan keperawatan:

a.   Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk terapi topikal dan sistemik. Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih atau dengan garam fisiologik setiap ¼ jam.

b.  Kemudian diberi salep penisilin setiap ¼ jam.

Pengobatan biasanya dengan perawatan di Rumah Sakit dan terisolasi

Medika mentosa:

a.    Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10.000 – 20.000 unti /ml setiap 1 menit sampai 30 menit.

b.    Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit. Disusul pemberian salep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari.

c.    Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokokus.

d.   Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut – turut negatif.

3)   Konjungtivitis alergi

Penatalaksanaan keperawatan berupa Kompres dingin dan menghindarkan penyebab pencetus penyakit. Dokter biasanya memberikan obat Antihistamin atau bahan vasokonstriktor dan pemberian Astringen, sodium kromolin, steroid topikal dosis rendah. Rasa sakit dapat dikurangi dengan  membuang kerak-kerak dikelopak mata dengan mengusap pelan-pelan dengan salin(garam fisiologis). Pemakaian pelindung seluloid pada mata yang sakit tidak dianjurkan karena akan memberikan lingkungan yang baik bagi mikroorganisme.

4)   Konjungtivitis viral

Beberapa pasien mengalami perbaikan gejala setelah pemberian antihistamin/dekongestan topikal. Tersedia bebas di pasaran. Kompres hangat atau dingin dapat membantu memperbaiki gejala.

 5).   Konjungtivitis blenore

Penatalaksanaan pada konjungtivitis blenore berupa pemberian penisilin topikal mata dibersihkan dari sekret. Pencegahan merupakan cara yang lebih aman yaitu dengan membersihkan mata bayi segera setelah lahir dengan memberikan salep kloramfenikol. Pengobatan dokter biasanya disesuaikan dengan diagnosis.

Pengobatan konjungtivitis blenore:

a.    Penisilin topikal tetes atau salep sesering mungkin. Tetes ini dapat diberikan setiap setengah jam pada 6 jam pertama disusul dengan setiap jam sampai terlihat tanda – tanda perbaikan.

b.    Suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/KgBB selama 7 hari, karena bila tidak maka pemberian obat tidak akan efektif.

c.    Kadang – kadang perlu diberikan bersama – sama dengan tetrasiklin untuk infeksi chlamydia yang banyak terjadi.

G.Komplikasi

Penyakit radang mata yang tidak segera ditangani/diobati bisa

menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan

komplikasi. Beberapa komplikasi dari konjungtivitis yangtidak tertangani

diantaranya:

1. glaukoma
2. katarak
3. ablasi retina

4.komplikasi pada konjungtivitis kataral teronik merupakan segala penyulit

dari blefaritis seperti ekstropin, trikiasis

5.komplikasi pada konjungtivitis purulenta seringnya berupa ulkus kornea

6.komplikasi pada konjungtivitis membranasea dan pseudomembranaseaadalah bila sembuh akan meninggalkan jaringan perut yang tebal di korneayang dapat mengganggu penglihatan, lama- kelamaanorang bisa menjadibuta

7.komplikasi konjungtivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik

dapat mengganggu penglihatan

H.pemeriksaan diagnostik

Laboratorium

Dapat dilakukan pemeriksaan tinja, kemungkinan kuman dan adanyatuberkulosa paru dan pemeriksaan kultur konjungtiva. Pemeriksaan denganpewarnaan gram pada sekret untuk mengidentifikasi organisme penyebabmaupun adanya infeksi sekunder (Alamsyah, 2007).

I.Pencegahan

a.       Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah membersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.

b.      Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata yang sakit

c.       Jangan menggunakan handuk atau lap bersama dengan penghuni rumah lain

d.      Gunakan lensa kontak sesuai dengan petunjuk dari dokter dan pabrik pembuatnya.

e.       Mengganti sarung bantal dan handuk dengan yang bersih setiap hari.

f.       Hindari berbagi bantal, handuk dan saputangan dengan orang lain.

g.      Usahakan tangan tidak megang-megang wajah (kecuali untuk keperluan tertentu), dan hindari mengucek-ngucek mata.

h.      Bagi penderita konjungtivitis, hendaknya segera membuang tissue atau sejenisnya setelah membersihkan kotoran mata.

J..  Prognosis

Konjungtivitis pada umumnya self limited disease artinya dapat sembuh dengan sendirinya. Tanpa pengobatan biasanya sembuh 10-14 hari. Bila diobati, sembuh dalam 1-3 hari. Konjungtivitis karena staphilokokus sering menjadi kronis.

ASKEP KASUS

Tn. S ( 40 thn ) datang ke poli dengan keluhan nyeri pada kedua matanya. Dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan mata klien tampak hiperemia, berair dan kotor. Klien mengatakan saat bangun tidur matanya lengket, terdapat purulen, pandangan klien sedikit kabur.

Pengkajian

Ds :

  • Klien mengeluh nyeri pada kedua matanya
  • Klien mengatakan saat bangun tidur matanya lengket, terdapat purulen, pandangan klien

Sedikit kabur

Do :

  • Hasil PF didapatkan data

Inspeksi :

Mata klien tampak hiperemia

Mata tampak berair

Mata tampak kotor

Dt :

  • Klien mengeluh nyeri skala 6
  • Klien tampak meringis kesakitan

Analisa Data

Data

Problem

Etiologi

Ds :

  • Klien tampak meringis Klien mengeluh nyeri pada kedua matanya
  • Klien mengeluh nyeri   skala 6

Do :

  • Klien tampak meringis kesakitan
 Nyeri akut Agen cidera biologi
Ds :

  • Klien mengatakan saat bangun tidur matanya lengket, terdapat purulen, pandangan klien

Sedikit kabur

Do :

  • Hasil PF didapatkan data

Inspeksi :

Mata klien tampak hiperemia

Mata tampak berair

Mata tampak kotor

Gangguan persepsi sensori

( Visual )

Perubahan sensori persepsi

 Diagnosa keperawatan :

  1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada kedua matanya, klien mengeluh nyeri  skala 6, klien tampak meringis kesakitan
  2. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi sensori ditandai dengan Klien mengatakan saat bangun tidur matanya lengket, terdapat purulen, pandangan klien sedikit kabur Hasil PF didapatkan data, inspeksi : mata klien tampak hiperemia, mata tampak berair, mata tampak kotor

Intervensi

Tgl/ jam

No. DP

Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi

Rasional

1. Nyeri akut teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam denagn kriteria hasil :

  • Klien tidak mengeluh nyeri lagi
  • Klien mengatakan skala nyeri 0
  • Klien tampak segar
  1. Monitor TTV tiap 6 jam
  2. Monitor skala nyeri

( PQRST )

  1. Monitor ekpresi wajah
  2. Anjurkan dan anjurkan teknik relaksasi dan distraksi
  3. Kolaborasi untuk antipieretik
  4. Nyeri yang dirasakan dapat menyebabkan terjadi perubahan TD, RR, Nadi.
  1. Keluhan nyeri yang dirasakan klien.
  1. Kondisi nyeri dilihay dari ekpresi wajah spt bermuka topeng atau meringis kesakitan.
  1. Bentuk pengandalian dari rasa nyeri
  1. Analgetik merupakan indikasi dari nyeri
2. Gangguan persepsi sensori teratasi setelah dilakukan tindakan selama5x 24 jam  dengan kriteria hasil :

  • Mata klien tidak lengket lagi saat bangun tidur
  • Purulen hilang
  • Pandangan tidak kabur
  • Tidak ada Hiperemia
  • Mata tidak kotor lagi
  • Mata klien tidak berair
  1. Monitor pola persepsi sensori penglihatan
  2. Monitor adanya hiperemia
  1. Kolaborasi terapi antibiotik
  1. Kolaborasi pemberian salep dan tetes mata
  2. Purulent dapat mengganggu penglihatan sehingga cahaya yang masuk tidak dapat di pantulkan
  3. Antibiotik merupakan indikasi dari suatu infeksi seperti pada otitis media kronik.
  4. Salep dan obat tetes mata dapat membersihkan purulen yang ada pada mata

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Konjungtivitis (konjungtivitis, pink eye) merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia.

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Oleh karena itu, konjungtivitis terbagi menjadi beberapa tipe antara lain; Konjungtivitis  Bakteri, Konjungtivitis  Bakteri Hiperakut, Konjungtivitis Viral, Konjungtivitis Alergi, dan Konjungtivitis blenore. Manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan pada pasien konjungtivitis tergantung dari penyebab dan tipe yang diderita.  Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilihat seperti pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.Pada pemeriksasan klinik didapat adanya hiperemia konjungtiva, sekret atau getah mata dan edema konjungtiva.

Penatalaksanaan konjungtivitis dapat dilakukan dengan berbagai macam cara baik penatalaksanaan medis maupun keperawatan. Karena konjungtivitis mudah ditularkan dari orang ke orang, maka kita sebaiknya harus melakukan tindakan pencegahan seperti tidak memakai peralatan secara bersamaan dengan penderita konjungtivitis, selalu mencuci tangan setelah melakukan kontak langsung dengan penderita konjungtivitis, dll. Prognosis konjungtivitis itu sendiri adalah Konjungtivitis pada umumnya self limited disease artinya dapat sembuh dengan sendirinya maupun dengan pengobatan.

B.     Saran

Penulisan makalah  ini memuat saran-saran yang ditujukan ke berbagai pihak, antara lain:

1.    Bagi pembaca, terutama mahasiswa keperawatan diharapkan dapat menggunakan makalah ini sebagai referensi untuk menambah pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada Konjungtivitis.

2.    Bagi pembaca agar memperbaiki segala kekurangan yang terdapat pada makalah ini, sehingga makalah ini dapat terbit dengan kondisi yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA